Setelah Ramadhan Berlalu

Hari pertama kembali menjadi pekerja setalah dua minggu libur, rasa malas terus menggerus. Pagi-pagi sudah niat bangun lebih awal tapi tetep aja bangun cuma sekedar matiin alarm hp. Dengan berat hati berpamitan pada bidadari kecilku dan mohon doa restu pada belahan jiwa, berangkatlah aku menembus dingginnya kotaku menuju tempat kerja.

Sampai di “terminal bayangan” (tempat kami ngumpul menunggu armada yang sebenarnya menuju tempat kerja:) ) riyayan dulu sambil cipika cipiki sama temen-temen yang sudah datang. Cerita awal yang terdengar biasalah cerita ibu-ibu bekerja yang harus kocar-kacir ditinggal asisten rumah.

Sampai di tempat kerja cerita tentang huru-hara ditinggal asisten rumah makin seru. Semua galau🙂 karena harus ini itu. Saya yakin bukan tidak senang melakukan pekerjaan rumah, capeknya itu yang bikin mana tahan. Apalagi yang dapat rejeki nomplok belahan jiwa yang pasrah aja “terserah bunda”. Pasti pusingnya sepuluh (bukan tujuh ya) keliling ato malah lebih😀

Beruntungnya saya yang punya asisten masih saudara dan rindu tempat bekerja. Jadi ketika saya beri libur sampai dengan jadwal umumnya para asisten rumah beliau malah maksa untuk hadir karena rindu bidadari kecilku itu katanya. Alhamdulillah ya…

Ok, itu tadi cerita tentang asisten rumah. Selanjutnya ketika tiba jam makan siang. Olala banyak yang cerita warung masih pada tutup. Nggak percaya, nekat aja saya pergi (kalo nggak nekat nggak kuat laparnya soalnya :D). Dan, tarrraaa… bener warung-warung masih pada tutup jadilah harus berjalan kaki dibawah terik yang ruarr biasa😦 . Saat Ramadhan rasanya cuaca tak seterik ini. Alhamdulillah masih ada yang buka walo harus menu terpaksa (baca : nasi goreng) dan nunggunya lama.

Balik lagi ke kantor, leyeh-leyeh dulu di masjid yang sepi. Tak terdengar lagi dengung orang-orang mengaji, ato dengkur teman-teman yang mengaku sedang “ibadah”🙂 Ah tiba-tiba hatiku menjadi biru.

Tak perlu menunggu lama ketika jarum jam menunjukkan waktu pulang, bergegas setor jari dulu, dan perjalanan pulang pun kembali dilalui kali ini malam bergerak lebih cepat. Biasanya saat Ramadhan sampai dekat rumah masih terdengar suara ayat-ayat Allah dari masjid, langgar, yang kulalui. Tak jarang bibir ikut larut dalam bacaannya. Aih tak sadar sebutir air mata jatuh. Hatiku kembali biru.

Sampai rumah, bidadari kecilku menyambut. Sebentar bermain bersama saatnya mengistirahatkan jiwa dan raga. Biasanya pas Ramadhan masih bisa bersama lebih lama, tarawih bersama, atau sekedar ngobrol saja. Kali ini tak terbantahkan lagi, aku rindu Ramadhan kembali bukan karena “disuruh” pak kyai tapi dari diriku sendiri. Ya Allah sempatkan aku menikmatinya lagi. Amiinn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s