Hanya bermain

“Jangan bunda, itu masih loding”, jerit Aisyahku.
Aku menoleh, dari mana dia kenal istilah itu. Diam saja aku coba mencari file lain.
“Ojok di kik, tunggu dulu, itu masih loding”, Aisy menjerit lagi.
Kali ini aku bergeming dan memandang mata bulat disampingku.
“Apa itu loding?” tanyaku
“Ya ini masih jalan kan..” katanya sambil menunjuk satu titik yang berputar-putar. Aku tersenyum.
“Kalo kik apa?”, tanyaku lagi
“Kik itu bgini..” katanya sambil meraih mouse dan menekan tombolnya.
Oalah klik batinku.
“Aisy kok pinter dikasih tau siapa?”
“Ayah, biar ngga rusak” katanya sambil tersenyum sok pintar.
Aku tersenyum, anakku yang kemaren sore masih selalu gendong sekarang sudah ngerti loding dan kik klik. Begitu cepatnya waktu berlalu.

##

Pagi yang sedih ketika penentu kebijakan mengharuskan aku berpindah tempat kerja. Terbayang harus melalui perjalanan yang panjang setiap hari. Air mata terus mengalir. Sedih.
“Jangan nangis bunda, jangan sedih”
Oh wajah imut itu berusaha mengiburku sambil menelusurkan jari mungilnya di sepanjang pipiku. Aku makin menangis.
“Aisy nggak nakal kok, Aisy pinter”
Kudekap erat bidadari kecilku aku percaya nak, kamu nggak nakal dan makin pinter.
Aku menjerit dalam hati, Ya Allah amanahmu ini berusaha menghiburku dengan mengerahkan ketabahan luar biasa di usianya yang belia.

##

Sore yang ramai, sepanjang jalan penuh sesak menyambut pesta rakyat memperingati hari jadi kotaku. Terpaksa berputar-putar mencari jalan menghindari kemacetan. Sampai depan Stasiun Kota aih macet juga, suara musik grup band ibu kota meraung-raung. Kami berputar lagi. Tiba-tiba….
“Ada apa bunda? Kenapa muter-muter lagi? Apa yang terjadi?”
Antara pusing dengan kemacetan aku terperangah, Benarkah itu tadi suara Aisyahku. Dengan tata bahasa yang mendekati baik dan benar untuk anak yang belum juga genap 3 tahun🙂

##

Hari libur diujung minggu, hari kebebasan dari segala rutinitas. Me time. Aku asyik dengan hobi utak atik asik, suami juga asik di depan laptopnya yang menyala. Aisyahku terlihat tenang di depan film kesukaannya Pororo. Dari sudut mataku, Aisy berjalan menuju tempat dudukku.
“Pasti mau ngriwuk-i” batinku.
Benar. Awalnya benang ditarik-tarik terus berlari mengitari ruangan sambil terus memegangi benang di tangan.
“Aaaaaiiiissyyyy, brenti”, aku berteriak.
Bukannya berhenti, dia menghampiri kotak pernak-pernikku, dan langsung di tumplek blek. OMG.
“Maaasss, Aisyah tuh nggangguin kerjaanku”, ganti aku meneriaki suami. Dia pun cuma menoleh lalu kembali menekuri laptop dihadapannya. Aisy tertawa senang lalu menarik tanganku.
“Ayo mainan”, katanya.
Kuturuti, sebentar saja barangkali dia tak menggangguku lagi. Dia mengajakku menari sambil mendengarkan soundtrack film yang sedang ditonton. Diantara lirik lagunya ada yang begini,

Yang kami mau hanyalah bermain bersama………….

Aisy menyanyikan lagu itu dengan tertawa, kuperhatikan tawa lepasnya, kurasakan genggaman tangan mungilnya, mencoba menjadi bagian dari permainanya. Aku mengerti sekarang dia ingin bersamaku, bermain, setelah seminggu ditinggal kerja. Kenapa dihari libur tetap saja tak ada waktu untuknya. Ah, maafkan aku bidadari kecil. Dan suara lantangnya membuyarkan lamunanku.
“Apa ini cukup bunda?”
Aku tertawa lalu meraihnya. Iya sudah cukup, aku tak akan melewatkan lagi waktu untuk mengikuti pertumbuhanmu…

 

2 thoughts on “Hanya bermain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s