catatan untuk adek kecil

Ooohh blogku, lama nian tak kuurusi dirimu….

Sepenggal kisah harus kulewati menyambut tahun 2013. Ada senyum dan sedih. Lama harus kutanamkan dalam hati bahwa ini adalah bagian perjalanan yang harus dihadapi dalam rangka memenuhi nilai berbagai pelajaran di bagian hidup saya. (uuhh…  beraaatttt..)

Akhir tahun 2012 saya tutup dengan senyum bahagia ditandai dua strip merah di test pack. Suatu kondisi yang kami tunggu-tunggu beberapa bulan terakhir. Saya positif hamil. Oh rasanya sama seperti tiga setengah tahun yang lalu waktu “dapet” Aisyah, anak pertama saya. Berbeda dengan masa kehamilan Aisyah dulu yang asyik aja, kali ini saya merasakan morning sickness yang lumayan. Sedikit panik awalnya karena dulu nggak gitu, tapi saya berusaha menikmati. Apalagi suami dan Aisyah memberikan perhatian yang luar biasa. Hiks terharu untuk pengertian bocah seumur Aisyah kala bundanya “rewel”. Terus menerus saya membesarkan hati untuk tidak menyerah, karena inilah yang kami harapkan. Sedikit flek di minggu kedua tapi kata dokter tak masalah. Alhamdulillah 4 minggu pertama terlewati.

Mulai saya melalap banyak informasi seputar kehamilan. Semakin banyak yang saya baca, saya mulai bingung, karena kadang di referensi A harus begini, tapi di referensi B harus begitu. Jujur mulai gelisah yang mana yang harus saya “turuti”. Saya seperti baru sekali ini hamil. Bersamaan “ujug-ujug” saya dapat panggilan mengikuti pelatihan di luar kota selama seminggu. Bimbang, ikut ato enggak. Kalo ikut ini akan jadi perjalanan pertama saya sendirian setelah menikah dan punya anak dan dalam kondisi morning sickness pula. Kalo nggak ikut ini kesempatan, yang entah lagi kapan datangnya disamping saya kepengen “berlari” sejenak dari rutinitas kerja. Pertama periksa dokter dulu memastikan apakah akan aman jika saya melakukan perjalanan. Done, dokter bilang ga masalah. Pertimbangan lain dari suami, ikut aja sekarang, nanti klo pas dah lairan malah kasihan si kecilnya. Bismillah mantap saya memastikan berangkat. Tiket dipesan, segala sesuatunya dipersiapkan. Sedianya saya berangkat tanggal 27 Januari. Dan mimpi burukpun dimulai…..

Sabtu 26 Januari saya membeli obat dan keperluan lain untuk berangkat keesokan harinya, karena hujan saya “ngiyup” sebentar, setelah reda mampir ke rumah Yang Kung-nya Aisyah. Jam 2 siang saya nyampe rumah, buru-buru mau sholat dhuhur. Dan terkejutlah melihat flek-flek yang lumayan banyak. Selesai sholat langsung periksa ke dokter. Sepanjang perjalanan saya sudah membayangkan hal-hal buruk terjadi, berusaha menahan supaya tak tumpah air mata ini. Sambil menunggu giliran, suami bertanya, “Bunda, kira-kira ini tanda keguguran bukan ya”. Deg, dan tumpah ruah air mata yang saya tahan sedari tadi. “Jangan Ya Allah, saya sungguh mengharapkannya”. Tiba giliran di periksa, saya kemukakan keluhan, langsung di USG sembari dokternya bertanya, “Masih mual-mual?”. Saya jawab “Tidak terlalu”. “Nah ini dia, coba saya periksa USG melalui jalan lahir”. Lama.. Ketika alat ditarik, darah menempel banyak sekali. “Ya Allah selamatkan dia”, jerit saya dalam hati. Pemeriksaan selesai saatnya mendengar penjelasan dokter yang kurang lebih begini, “Ibu, janin yang ada tidak sesuai dengan umurnya. Ada proses pelepasan dari tempatnya”. Saya langsung bertanya “apakah ini keguguran?”. “Belum, tapi mengarah kesana. Ini saya beri obat penguat, kalo dia kuat dia akan bertahan, tapi kalo tidak dia akan luruh”. “Apakah karena saya kecapekan?” Sekali lagi dokter menggeleng, “Bukan. Ya memang dia tidak ‘jadi'”. “Apa maksudnya tidak jadi? Saya tidak hamil?” saya terus mencecar dokter dengan beberapa pertanyaan. “Ya dia tidak berkualitas, jadi kalopun dia bertahan jadinya seperti apa kita tunggu saja”. Saya menangis, sedih luar biasa. Lama saya menangis di ruang periksa. Apalagi ketika dokter melarang saya berangkat mengikuti pelatihan, bukan karena batal berangkat, dalam pikiran saya brarti ini keadaan serius. Pulang dari dokter, saya sudah seperti tidak punya harapan lagi. Suami terus menyemangati bahwa semua akan baik-baik saja. Semakin saya sedih ketika Aisyah bertanya, “Kenapa adeknya, Bunda?” Duh tidak kuasa menjawab pertanyaan bidadari kecil ini. Sampe malam flek semakin banyak. Ba’da maghrib ada darah segar mengalir. Saya kembali panik. Saya coba telpon kakak saya, yang langsung mengusulkan mencari second opinion. Jam tujuh malam saya berangkat lagi ke dokter yang dulu menangani kelahiran Aisyah. Penjelasan yang diberikan sama dengan dokter pertama. Pertanyaan yang sama saya lontarkan, solusi yang sama juga yang saya dapatkan. Hanya obat penguat, lainnya tidak ada. Sudah seperti melayang tak menginjak tanah saya.

Sepanjang hari Minggu keesokan harinya tidak lagi flek, tapi darah bergumpal. Awalnya sedikit lama-lama agak besar. Saya ambil beberapa darah beku yang berserakan di lantai kamar mandi, saya bawa dalam timangan lalu ke pipi. Sudah berapa lama menangis, saya sampai tak ingat lagi. Suami terus menemani, dan dengan sabar menuruti yang saya mau mengambl darah beku itu. Saya tau dia juga sedih. Ah temans.. semoga kalian semua tak pernah mengalamainya.

Senin, dari pagi perut saya terasa mulas seperti ingin kebelakang. Siang menuju sore rasa mulasnya makin meningkat. (Malam harinya dari informasi dokter baru saya tahu bahwa itulah kontraksi. Karena di kelahiran Aisyah dulu saya tidak mengalaminya). Saya mulai merasa lemah. Mungkin akibat dari banyaknya darah yg mengalir disamping psikologi yang terguncang. Senin jam 8 malam saya bergegas ke Rumah Sakit lagi. Sekali lagi USG dilakukan, hasilnya dia tak lagi di tempatnya, hiks…😥 . Dokter memberi pilihan menunggu si kecil saya “lahir” dengan sendirinya ataukah dengan bantuan medis. Dengan segala pertimbangan akhirnya kami pasrahkan pada medis. Jam 9 malam perawat mulai bekerja memasang alat di punggung tangan kanan. Saya mencoba mencari informasi alat untuk apakah itu. Dijawab “Untuk memasukkan obat bius”. Deg pake dibius segala. “Tapi bius lokal kan mbak”, tanya saya. “Total bu, tapi cuma sebentar kok”, jawabnya tenang. Saya yang menjadi tidak tenang kemudian. Terbayang wajah Aisyah yang tak sempat saya cium pas berangkat tadi. Bagiamana kalo saya tidak bangun lagi. Ah, entah semua pikiran bercampur aduk. “Harus ya mbak? Klo ga di bius ga bisa?”. “Iya bu, harus”. Saya tidak bertanya lagi. Suami menenangkan saya sebisanya. Jam 9.30 malam, dua dokter di ruangan itu. Satu orang menyuntikkan obat melalui alat yang terpasang di punggung tangan, satu lagi dokter kandungan. Saya masih bisa melihat. Saya berusaha untuk terus membuka mata. Dan….

Jam 10.30 an malam saya baru membuka mata. Saudara-saudara saya berkumpul, di sebelah kanan suami memegang tangan saya berusaha mengembalikan kesadaran saya. Hilang sudah lemas dan mulas yang sedari tadi saya rasakan, tapi saya kehilangan dia, bayi saya. Hiks.. hiks…

Selamat jalan adek kecil, Allah akan beri tempat terbaik untukmu, Ayah, bunda, dan mbak Aisy menyayangimu……..

2 thoughts on “catatan untuk adek kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s